Miris!! Seorang Janda Terpaksa Hidup di Gubuk Reot Bersama 2 Orang Anaknya

  • Whatsapp

Langsa, SAB: Pernahkah anda membayangkan hidup di rumah yang hanya seluas 3 x  1,5 meter bersama dua orang anak? Mungkin anda akan sangat sulit membayangkan bagaimana kondisi dan rasanya hidup bertahun-tahun di rumah sekecil itu.

Nyatanya inilah gambaran kehidupan seorang ibu di Desa Lhokbanie, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa. Semenjak suaminya meninggal, Sakdiah terpaksa tinggal di rumah kecilnya bersama dua anak perempuannya yaitu Dara yang berusia 9 tahun dan Zaitun yang berusia 10 bulan.

Awalnya Bu Sakdiah tinggal dirumah berlantai tanah dengan ukuran 5 X 3 meter dan selalu terdampak air pasang laut, tak aneh jika keadaan tiang dan dinding rumah terlihat lapuk dan terkikis air laut, namun ketika suaminya meninggal ia memutuskan untuk membangun rumah panggung seorang diri dari kayu bekas dan bambu seadanya untuk menopang rumah dengan tinggi lantai sekitar 2 meter dari tanah.

Agar bisa memasuki rumahnya harus meniti anak tangga yang terbuat dari bambu. Perasaan takut akan sangat terasa bagi kita yang baru pertama kali menaiki tangga tersebut. Ya wajar saja karena tangganya terbuat dari bambu dan beberapa kayu bekas.

Di dalam rumah, jangan berharap anda akan menemukan sebuah lemari apalagi kasur. Semua pakaian dilipat dan diletakkan di pojok tepat di sebelah bantal tempat mereka tidur. Untuk tidur saja hanya beralas tikar.

“Di sinilah tempat kami solat, tidur, makan dan meletakkan baju yang baru dicuci,” ucap Bu Sakdiah lirih kepada Furqan, Relawan Aksi Cepat Tanggap Langsa.

Jika kita tidur, tepat di ujung kaki disitu adalah tempat Sakdiah memasak. Hanya ada satu wajan penggorengan dan satu panci untuk memasak nasi, itupun kondisinya sudah sangat tidak layak.

Ukuran dapur tak lebih dari 70 x 150 cm. Ironisnya tidak semuanya bagian dari dapur memiliki atap, jika hujan turun sudah pasti Bu Sakdiah tidak bisa memasak.

“Di dapur itu bukan hanya untuk memasak, kami juga pakai untuk mandi,”  tambah Sakdiah.

Pekerjaan sehari-hari janda dua anak tersebut mencari kerang. Menurutnya mencari kerang makin hari makin susah saja, ia harus menghabiskan waktu lebih lama dibanding belasan tahun yang lalu ketika ia masih remaja.

“Sehari itu jika saya mencari kerang, palingan dapat 20 ribu rupiah, jika ditanya cukup, ya tidak cukup pastinya, tetapi mau gimana lagi bang, saya tidak tau harus gimana lagi”, ujar Bu Sakdiah lirih.

Sakdiah tidak setiap hari bekerja mencari kerang, jika ada yang memintanya menyetrika baju, ia dengan senang hati akan mengerjakannya. Upah yang diterima juga tidak banyak, maklum saja itu dikerjakan dengan upah harian yang berkisar Rp. 20.000- Rp. 30.000 saja, tergantung dari banyaknya yang harus ia setrika.

Bu Sakdiah mencoba berbagai macam cara agar ia bertahan hidup, tak jarang harus berhutang dan bulan kemarin ia menggadaikan emasnya yang tak lebih dari Rp. 300.000. Sedangkan untuk makan, ia bercerita kerapkali berpuasa karena tidak ada yang bisa dimasak.

“ Kalau gak ada yang bisa dimasak, saya dan anak tidak makan. Mau mengeluh atau meminta kepada tetangga juga saya sudah malu, karena sering tidak memiliki makanan, jadi daripada merepotkan orang lain saya lebih memilih diam dan berusaha sebisanya”, ucapnya.

Nasib Dara yanak perempuan sulung Sakdiah terpaksa tidak melanjutkan pendidikan karena tidak mampu membiayai kebutuhan sekolah, seperti membeli seragam, perlengkapan tulis dan sebagainya.

“Dara sempat sekolah sampai kelas 3 SD, Cuma karena kemarin saya tidak memiliki uang lagi, yaa terpaksa ia berhenti sekolah”, bilang Sakdiah.

Namun Sakdiah sadar bahwa pendidikan sangatlah penting bagi anaknya, oleh karena itu ia sekarang sedang berjuang mencari pekerjaan yang memiliki pendapatan yang lumayan sehingga anaknya dapat melanjutkan pendidikan lagi.

Himpitan ekonomi juga membuat ia tak berdaya ketika beberapa waktu lalu harus kehilangan seorang putranya yang meninggal karena perawatan seadanya.

Ketika itu ia sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan kedua anaknya, dan tidak menydari bahwa putranya sudah sakit parah. Dan ketika dibawa ke rumah sakit sudah terlambat.

Sahabat Dermawan, kehidupan Bu Sakdiah adalah salah satu potret yang sangat menyedihkan dan luput dari pandnagan kita selama ini. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup dalam serba kekurangan. Sangat tidak baik jika kita membiarkan kehidupannya yang seperti itu berlanjut.

Oleh karena itu Aksi Cepat Tanggap Langsa berupaya mengajak semua Sahabat Dermawan yang ada di mana saja untuk ikut membantu memenuhi biaya kehidupannya sehari-hari sehingga ia mampu merawat keluarga kecilnya dan menjadi anak-anak yang shalehah.

Silahkan berikan sedekah terbaik anda melalui rekening Aksi Cepat Tanggap Langsa (BSI #7164169067) dan konfirmasi ke 0822 9720 7127 atau DM Instagram @act_langsa.

Bisa juga diantar langsung ke kantor ACT Langsa yang berlamat di Jl. Lilawangsa, No.17, Paya Bujok Tunong. Langsa Baro, Kota Langsa.
Wiwin hendra

banner 300x250

Pos terkait

banner 300x250