Dinas LHK Aceh dan YEL Sosialisasi Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Satwa Liar di Nagan Raya

  • Whatsapp
Ir. TM Zulfikar, MP, Koordinator Yayasan Ekosistem Lestari Aceh (kanan) sedang berbicara terkait perlindungan dan pengelolaan lahan gambut dan satwa liar di Hotel Grand Nagan Kab. Nagan Raya, Rabu 30/12.

Nagan Raya, SAB, 30/12/2020: Pengelolaan ekosistem gambut di Aceh yang saat ini dengan struktur kewenangan berbeda dan stakeholder yang beragam baik dari sektor publik, swasta maupun masyarakat. Sebagai upaya harmonisasi dari kompleksitas pengelolaan diatas, diperlukan suatu rencana bersama yang melibatkan multipihak untuk perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut yang berkelanjutan di Aceh.

Upaya ini juga memuat strategi perlindungan dan pengelolaan yang mencegah penurunan kualitas dan kerusakan permanen ekosistem gambut.

Pada dasarnya Pemerintah Aceh telah menyusun draft akhir dari Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Aceh melalui Tim Penyusun dibawah koordinasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh.

Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Aceh yang sedang disusun ini tentunya perlu melibatkan multipihak, dan setelah melalui semua proses perumusan dokumen rencana, diharapkan nantinya ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Aceh.

Penandatanganan Komitmen Kelompok Masyarakat Peduli Gambut Nagan Raya, Rabu 30/12.

RPPEG ini tentunya haruslah menyentuh sampai tingkat tapak mengingat masyarakat yang selalu bersentuhan langsung dengan lahan gambut. Demikian pula pengetahuan mengenai RPPEG ini belum juga menyentuh di tingkat bawah. Maka dengan latar belakang hal tersebut maka perlu adanya sosialisasi tentang RPPEG ini.

Koordinator Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Aceh, TM Zulfikar, menyatakan bahwa selain memiliki Dokumen tentang Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Aceh, Aceh juga sudah memiliki Qanun Aceh tentang Pengelolaan Satwa Liar yang tentunya sangat penting juga untuk dilakukan sosialisasi di kalangan masyarakat, karena beberapa satwa liar juga hidup di dalam kawasan ekosistem gambut di Aceh.

Oleh karena itu, dalam upaya untuk mengajak para stake holder yang berkecimpung di Gambut baik dari unsur pemerintahan maupun masyarakat bisa bersama sama melakukan aksi dalam penyelamatan Satwa Liar dan Ekosistem Gambut Aceh, maka Dinas LHK Aceh dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyelenggarakan Sosialisasi Perlindungan Ekosistem Gambut dan Qanun Pengelolaan Satwa Liar Aceh Bagi Kelompok Masyarakat Peduli Gambut pada Rabu (30/12/2020) bertempat di Hotel Grand Nagan, Simpang Peut, Kabupaten Nagan Raya.

TM Zulfikar menjelaskan bahwa acara yang dilaksanakan sehari penuh tersebut diinisiasi oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan dibuka secara simbolis oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh yang diwakili Kasi Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) DLHK Aceh Firdaus, S.Hut, M.Si.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari unsur DLHK Aceh, DLH Nagan Raya, KPH IV dan V, Muspika Kecamatan Darul Makmur, BKPH Alue Bilie, BKPH Meureubo, Mukim Seunaam, Mukim Ujung Raja, LSM Tripa Institut dan Kelompok Masyarakat Peduli Gambut, khususnya yang berada di Kemukiman Ujung Raja, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya.

Sedangkan narasumber yang dihadirkan pada sosialisasi ini antara lain Dedek Hadi Ismanto, S.Hut, M.Si (Kasi Konservasi SDA DLHK Aceh) dan Yacob Ishadamy (Direktur Konservasi YEL).

Selain pemaparan materi dan diskusi juga dilakukan pembacaan pernyataan dan penandatanganan bersama Komitmen Kelompok Masyarakat Peduli Gambut Kabupaten Nagan Raya, khususnya yang berada di Kemukiman Ujung Raja. (*)

Pewarta: TM Zulfikar
Editor: Deni Irawan

banner 300x250

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *