Cegah Krisis Pangan Kala Pandemi, ENDATOE TANI Bagi Bibit Tanaman dan Pupuk Gratis

  • Whatsapp
Tim Endatoe Tani saat kegiatan pembagian Pupuk Cair Alami dan bibit tanaman holtikultura secara gratis kepada sejumlah warga di Lorong Bayu Desa Drien Rampak Johan Pahlawan Aceh Barat, Minggu 28/2.

Meulaboh, SAB: Bertujuan atasi ancaman krisis pangan ditengah Pandemi Covid 19 yang tak ujung usai, komunitas Endatoe Tani Gelar kegiatan Pembagian Pupuk Cair Alami dan bibit tanaman holtikultura secara gratis kepada sejumlah masyarakat dalam wilayah kabupten Aceh Barat Minggu 28/2 di Lorong Bayu Desa Drien Rampak Johan Pahlawan Aceh Barat.

Kegiatan yang diberi tema “ Mari optimalkan lahan pekarangan demi ketahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga” diselenggarakan oleh tim penggerak kedaulatan pangan (Endatoe Tani) dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 28 Februari.

Inisiator Endatoe Tani Syamsul Kamal kepada media ini mengungkapkan bahwa pembagian pupuk dan bibit tanaman pangan gratis ini merupakan program stimulus sebagai bentuk rangsangan dan daya tarik masyarakat agar dapat hadir dalam kegiatan diskusi mendalam tentang pentingnya tumbuh gerakan bersama untuk mendorong masyarakat luas agar dengan penuh semangat  mau mengoptimalisasi lahan pekarangannya dengan tanaman pangan kebutuhan konsumsi gizi keluarga.

Karena melalui pemanfaatan lahan pekarangan tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan pangan ditingkat rumah tangga, namun juga bisa mengurangi pengeluaran bahkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga bila dikelola secara maksimal.  Papar kamal dalam kegiatan diskusi tersebut yang diikuti wartawan media ini hingga proses kegiatan selesai.

Lebih lanjut  social entrepreneur ini mengatakan, pengeluaran biaya untuk kebutuhan konsumsi harian keluarga itu kelihatannya  memang kecil tapi jika  kita kalkulasikan sebenarnya sangat besar.

”Coba dihitung sederhana saja untuk kebutuhan dapur khusus sayuran dan rempah campuranya seperti cabe, kunyit,tomat dan lain-lain rata-rata 2.000 / Jenis dikali 5 macam x 3 waktu masak dalam sehari maka  pengeluaran biaya Rp.30.000 / hari atau Rp.900.000 setiap bulannya.”Ini asumsi terkecil untuk keluarga kecil dan jika anggota keluarga banyak tentu akan lebih besar lagi,”jelas Kamal.

Pada momentum Peringatan Hari Gizi Nasional tersebut komunitas Endatoe Tani juga melakukan kegiatan berbagi berkah kepada warga kurang mampu didesa itu dengan cara menyiapkan wadah penanaman melalui pot ban bekas dan media tanam serta dilakukan penanaman secara langsung oleh tim  Endatoe. “ Proses ini dilakukan sebagai bentuk edukasi awal tata cara budidaya tanaman dengan baik dan benar agar mereka medapatkan hasil panen yang memuaskan dikemudian hari” Ungkap Sudirman yang juga merupakan salah tim Endatoe Tani.

Sudirman menjelaskan bahwa kegiatan berbagi berkah ini tidak hanya selesai disini saja, namun terus kita lakukan pendampingan dan penguatan hingga mereka berhasil dalam pengelolaan tanaman pangan keluarga dikebun pekarangan tersebut. Selain itu program ini juga akan terus dilakukan secara berkelanjutan kapada penerima manfaat lainnya dengan sasaran yang berbeda dengan harapan dapat meningkat keamanan pangan keluarga  secara mandiri dan menurunkan tingkatan gizi buruk terutama bagi lansia produktif dan anak-anak. “Terang Sudirman”

Sementara itu Kamal menambahkan terkait kegiatan berbagi berkah dengan nama program Endatoe Peduli adalah salah satu program turunan dari Endatoe Tani yang merupakan sebuah Gerakan Kedaulatan Pangan dengan tujuan besarnya untuk mewujudkan kemandirian ekonomi terutama bagi petani kecil serta menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat luas. Apalagi belum lama ini  Aceh kembali menjadi provinsi termiskin dan tak kalah mirisnya lagi di negeri agraris ini menjadi negara yang memiliki indek terendah ketahanan pangan bahkan lebih parahnya Indonesia tertinggal jauh dari Negara Zimbabwue yang mendapat peringkat 31 dan Ethopia pada urutan 27 dalam Food Sustainability Index(FSI). Sementara Indenesia mendapat peringkat ke -60 padahal sebagaimana kita ketahui Ethopia pada tahun 90-an pernah melanda krisis pangan yang cukup dasyat ini menjadi tamparan keras terhadap negara kita  yang sangat kaya akan sumberdaya alam ini.

Maka dari itu, dua persoalan besar diatas menjadi suatu pembelajaran penting bagi semua pihak agar kita bisa bangkit dari ketertinggalan dan keterpurukan ini tanpa menyalahkan siapapun. Tetapi mari secara bersama kita bersinergi dalam membuat inovasi dan terobosan strategis untuk menciptakan perubahan baru di negri tercinta ini  dengan mengambil peran masing-masing.

Karena perlu kita pahami bersama bahwa untuk mengatasi persoalan kemiskinan dan krisis pangan di negri ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja melainkan seluruh lapisan masyarakat terutama para pemikir yang berjiwa entrepreneurship ( kewirausahaan) sehingga potensi yang ada pada masyarakat merupakan modal utama dalam mengatasi persoalan tersebut,” tutup Syamsul Kamal. (***)

Pewarta: Imam Nugroho

banner 300x250

Pos terkait

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *