Pemerintah Aceh Gelar Konsultasi Publik Final Penyusunan Aceh Green Growth Planning

  • Whatsapp

Banda Aceh, SAB: Pemerintah Aceh telah memperlihatkan komitmen dalam mencapai Pertumbuhan Ekonomi Hijau melalui penyusunan dokumen masterplan dan roadmap rencana pertumbuhan hijau Aceh. Pada Rabu (18/11), telah dilakukan konsultasi publik final Penyusunan Rencana Pertumbuhan Hijau (Green Growth Planning) Aceh bertempat di gedung pemerintah setempat.

Konsultasi Publik ini dipimpin oleh Sektretaris BAPPEDA Aceh dan Ketua Tim POKJA Pertumbuhan Ekonomi Hijau Aceh yang turut menghadirkan semua anggota Pokja GGP dan para narasumber penanggap untuk berdiskusi terbuka mengenai Pengembangan Implementasi Strategi Rencana Pertumbuhan Hijau (GGP) Aceh. Tinjauan lintas aspek, penyampaian rencana tindak lanjut (kebijakan, rencana, dan program), penegasan komitmen, dan rekomendasi dalam pembangunan Ekonomi Hijau Aceh menjadi bagian krusial dalam proses Konsultasi Publik Final, yang diikuti oleh keterwakilan pemangku kepentingan yang luas dari lintas sektor terkait, di antaranya para Kepala Dinas/Instansi, SKPA, Perguruan Tinggi, asosiasi usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta perwakilan SKP Kabupaten/Kota seluruh Aceh, masyarakat Aceh, dan rekan-rekan media.

“Dokumen tersebut  sejalan dengan visi Aceh Green pemerintah Aceh. Harapannya melalui konsultasi publik final ini dapat mencerminkan proyeksi masa depan Aceh dari aspek lingkungan, ekonomi dan sosial agar pembangunan daerah dapat lebih hijau dan lebih bersih. Pihak pemerintah Aceh menyampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi terhadap semua pihak yang telah berkontribusi terhadap dokumen ini melalui diskusi-diskusi yang diadakan oleh tim POKJA Pertumbuhan Ekonomi Hijau Aceh”,ujar Ir Helvizar, M.Si, Kepala BAPPEDA Aceh yang diwakili oleh Feriyana, S.H., M. Hum., Sektretaris BAPPEDA Aceh.

Pemerintah Aceh memulai kegiatan penyusunan rencana #PertumbuhanHijau pada Maret 2020, yang diinisiasi dan didukung oleh Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) dan difasilitasi proses penyusunannya oleh kolaborasi ICRAF (World Agroforestry) bersama Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA). Proses pengumpulan data, wawancara dengan pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota, melalui berbagai pertemuan dan diskusi telah dilakukan bersama para pihak, termasuk akademisi, pelaku dunia usaha, juga lembaga nirlaba.

Selanjutnya, proses analisa data, pemodelan, dan proyeksi skenario pembangunan juga telah dilakukan dalam rangkaian penyusunan dokumen tersebut.

Proses perencanaan pertumbuhan hijau (Green Growth Plan) dilakukan melalui kajian iteratif terhadap beberapa skenario pembangunan yang mempertimbangkan aspek kebutuhan lahan untuk berbagai fungsi dari berbagai pemangku kepentingan. Indikator tatanan sosial, kebijakan alokasi lahan, kesesuaian lahan, manfaat ekonomi (skala regional, usaha, petani) maupun aspek lingkungan, menjadi faktor penentu hingga diperoleh opsi ideal rencana tata guna secara spasial, praktik silvikultur yang ramah lingkungan untuk produksi komoditi unggulan, peningkatan nilai produk, maupun perbaikan rantai pasar. Pada gilirannya, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi signifikan yang sejalan dengan dampak lingkungan minimal menjadi keniscayaan untuk dicapai.

Beragam rangkaian kegiatan telah dilakukan dan menghasilkan keluaran berupa kajian historis terhadap pembangunan ekonomi Aceh di masa lalu yang meliputi aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Skenario business as usual dihasilkan melalui proyeksi data historis serta kajian menyeluruh terhadap rencana pembangunan saat ini. Di sisi lain, telah dibangun skenario Pertumbuhan Hijau (Green Growth) melalui pembentukan visi dan tujuan bersama dalam pertumbuhan hijau di Aceh. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan penyusunan strategi intervensi, kajian menyeluruh dari sektor dunia usaha dan rencana tingkat Kabupaten/Kota, melalui rangkaian workshop dan Focus Group Discussion yang dikoordinasi oleh Kelompok Kerja (Pokja) Penyusun Rencana Pertumbuhan Hijau hingga menghasilkan Draft Dokumen Rencana Pertumbuhan Hijau Aceh.

“Kami sangat senang dapat membantu pemerintah Aceh menyusun dokumen Pembangunan Ekonomi Hijau ini dimana ini bisa menjadi jawaban awal untuk isu-isu utama di Provinsi Aceh terutama bagaimana mengembangkan pembangunan dan menurunkan kemiskinan tanpa menimbulkan bencana alam. Dokumen ini diharapkan dapat mewarnai bukan hanya kebijakan di Provinsi Aceh, namun juga mewarnai implementasi pembangunan dan investasi hijau di Aceh. Kita berharap dokumen ini dapat diperkuat dan masuk dalam kerangka hukum di Aceh”, ujar Fitrian Ardiansyah, Ketua Pengurus YIDH, dalam sambutannya.

Sebagai alat bantu, platform #5langkahacehhijau juga diperkenalkan oleh Tim Pokja dan Fasilitator GGP Aceh untuk secara ringkas, ringan dan komprehensif dapat memvisualisasikan Rencana Pertumbuhan Hijau Aceh. Perangkat visual yang dapat diakses menggunakan gawai terkoneksi internet ini diharap dapat mengakomodir proses diskusi dan seluruh forum pembicaraan yang dapat mendukung implementasi rencana pertumbuhan hijau. Tentu semua tidak terlepas dari harapan terbangunnya diskusi untuk kesepakatan atas masterplan dan roadmap ini, yang mengarah pada komitmen bersama menuju implementasi rencana pertumbuhan hijau di Aceh.

Pewarta; TM Zulfikar

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 300x250